Self-improvement

Kiat Memotivasi Diri Sendiri ketika Malas Melanda

kiat-memotivasi-diri-sendiri

Entah ketika Sobat sedang belajar untuk ujian, bekerja di kantor, atau sekadar mengatur waktu untuk menghabiskan akhir pekan dengan kegiatan-kegiatan yang produktif, mencari tahu trik-trik praktis untuk memotivasi diri sendiri adalah salah satu hal penting yang bisa kita pelajari. Kiat yang satu ini nggak membutuhkan keterampilan khusus untuk dipelajari, karena pada dasarnya nggak ada satu orang pun di dunia ini yang benar-benar malas mengerjakan segala sesuatu.

Iya, ‘kan?

Tapi, gimana caranya supaya bisa memotivasi diri sendiri ketika kita sedang dilanda ke-mager-an yang luar biasa parah? Continue reading

Advertisements
Standard
Blogging

5 Kesalahan Ngeblog Paling Umum tapi Berbahaya, Wajib Dihindari! (dan Cara Mengatasinya)

kesalahan-ngeblog-paling-umum

Saya yakin jika bagian termudah dari meluncurkan sebuah blog adalah proses perencanaannya (setuju nggak, nih?). Kita merasa bersemangat memilih-milih nama domain, mengatur layout blog dari nothing menjadi something, merencanakan tanggal penerbitan posting pertama, dan masih banyak lagi tetek-bengek yang membuat Anda menggebu-gebu di awal karir kita sebagai seorang blogger.

Tapi, kurva semangat tersebut mulai membentuk garis lengkung merosot ke bawah yang menandakan entusiasme kita menurun seiring dengan penerbitan tulisan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya – sehingga, yang namanya “kesalahan” pun nggak bisa dihindari. Terjadi begitu saja, tanpa disadari.

Nah, kalau bagian termudahnya adalah proses perencanaan, bagian tersulitnya sudah pasti proses pembuatan konten, promosi blog sana-sini, serta menunggu respons dan timbal balik dari pembaca yang rasanya nggak kunjung datang. Betul nggak, tuh?

Saya paham betul betapa mengintimidasinya momen-momen tersebut, apalagi ketika saya memutuskan untuk menulis tips dan pengalaman pribadi saya untuk dibaca khalayak luas. Yang lebih menakutkan lagi adalah ketika mengecek reaksi pembaca tentang tulisan-tulisan saya. Kalau komentarnya positif, tentu saja hati jadi senang, rasanya seperti memenangkan lomba Agustusan dan mendapat doorprize. Tapi, kalau komentar negatif yang didapat, sudah pasti bikin patah hati dan hilang semangat, nafsu makan, bahkan tidur pun tak nyenyak (lho? kok mirip gejala ditolak do’i? 😅).

Berdasarkan pengalaman pribadi, hari ini saya akan membeberkan beberapa kesalahan umum para blogger – baik yang masih amatiran atau blogger veteran sekalipun – dan tips-tips untuk menghindari atau memperbaiki kesalahan yang sudah terlanjur dibuat itu. Karena kita hanyalah manusia biasa, bukan nabi yang bisa sempuran (uhuk), wajar saja kesalahan itu terjadi. Tapi, karena nggak ada yang nggak mungkin di alam semesta ini, mari kita kupas satu-persatu kesalahan ngeblog apa saja yang sering dilakukan tanpa disadari akibat fatalnya. Continue reading

Standard
Lifestyle

Belajar Etika Makan dan Minum dalam Table Manner

belajar etika makan dan minum dalam table manner

Selama 18 tahun kehidupan saya yang singkat, beberapa adjektiva negatif melekat kuat di benak saya tentang table manner: sumpek, ribet, dan terlampau glamor bagi wong cilik seperti saya. 🤣 Gimana? Anda juga sepemikiran?

Tapi, berkat mengikuti kelas Introduction to Public Relations di semester genap tahun ajaran 2015/2016, saya berkesempatan untuk mempelajari etika makan dan minum gaya orang Barat secara mendalam. Ilmu yang saya timba dari acara tersebut – dan yang akan saya bagikan di wacana ini – tanpa disadari mampu menambah esensi syahdu dalam suasana bersantap, lho. 😉 Alih-alih dipandang sebagai “tata tertib runyam”, etika makan yang santun merupakan sebuah manual yang akan membimbing masing-masing peserta santapnya tak hanya sekadar menikmati jamuan yang lezat, namun sekaligus menjalin pembicaraan yang seru dan menyenangkan.

Demi mencapai tujuan tersebut, berikut 11 tips table manner bagi pemula yang hendak belajar etika makan dan minum. Continue reading

Standard
Self-improvement

Bagaimana Cara Menemukan Kebahagiaan untuk Diri Sendiri?

cara menemukan kebahagiaan

Oke, tulisan hari ini mau tak mau saya mulai dengan membuat sebuah pengakuan bahwa Internet – sebuah dunia siber yang maha berlimpah dengan segala isinya – mungkin tidak lagi memerlukan satu tambahan wacana mengenai tata cara menjadi orang yang bahagia.

Malah, saya tak akan menampik jika Anda sudah terlebih dahulu membaca buku ini. Saya juga dengan gampangnya akan percaya bahwa Anda telah menerapkan beragam metode self-care atau menulis jurnal (re.: diari, kalau kata anak 90-an, hehe). Atau jangan-jangan, Anda justru sudah hapal di luar kepala isi posting-an para suhu dengan otak-cemerlang-hati-bijaksana di dunia per-blogging-an? Haha, bisa jadi begitu!

Tapi, pertanyaan krusialnya adalah: bagaimana jika saya, atau Anda, sama-sama buta tentang apa yang membuat kita bahagia? 🤔 Continue reading

Standard
Personal

Tahun 2019, Saatnya Menemukan Kesenangan dalam Membaca (Lagi)

menemukan kesenangan dalam membaca

Di liburan semester ini saya menemukan hobi baru (atau lebih tepatnya, menghidupkan kembali hobi lama), yakni membaca novel dan komik. Sempat vakum selama sekian tahun lamanya, rasanya baru kali ini saya benar-benar merasa rileks ketika membolak-balik kertas dari halaman ke halaman tanpa perlu terburu-buru dikejar tenggat waktu.

Terlambat saya sadari bahwa semakin tua sepertinya alasan utama saya berurusan dengan buku hanya demi mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam ujian. Sejak masuk SMA, saya makin jarang bersentuhan dengan novel ataupun komik yang biasanya selalu jadi teman setia di kala luang. Mungkin karena saya sudah terlalu jengah bertemu dengan buku diktat dan lembar kerja soal di sekolah dan tempat les, itulah yang menyebabkan saya enggan jika harus menambah jatah bacaan saya lagi.

Keengganan ini makin menjadi-jadi sejak saya masuk kuliah. Selalu dipertemukan dengan paper dan journal, waktu dan minat saya untuk membaca hal-hal selain urusan akademik makin menipis. Melihat buku yang berjejer-jejer di perpustakaan saja bisa menimbulkan decak sinis. Apalagi di musim ujian yang biasanya mengharuskan saya mengerjakan 3-4 take home exam, membaca jelas-jelas bukan satu bentuk penghiburan yang saya inginkan.

Karena itulah, begitu libur semester dimulai, saya bertekad untuk mengistirahatkan mata dan otak dari segala kegiatan yang berhubungan dengan membaca. Continue reading

Standard